Cari Blog Ini

Selasa, 18 Februari 2025

Hiking Ke Lembah Purba Sukabumi Bersama Temen Kantor


Hiking Ke Lembah Purba Sukabumi Bersama Temen Kantor
2024 November 15

Malah yang ini dulu wkwkwk
Baru bikin yang baru, tapi masih proses bagian review

Salah satu wisata di Sukabumi yang tidak cocok buat akrofobia dan tidak ramah orang yang gampang capek. Welcome to the other side of Situ Gunung, yaitu Lembah Purba Sukabumi.

Review-nya nanti juga upload sendiri wkwkwk

========================================
Lembah Purba Sukabumi (Purba Valley)
2024 November 15

This is our trip to Sukabumi and we choose to visit to Lembah Purba. I have ever visited this once, but in the Situ Gunung (Gunung Lake) side. It's recommended to visit this place in the morning to taste the Flying Fox across Situ Gunung. And also exploring the place needs to enclose all your parts of the body since so many little leech in this place.

#fyp #quote #poem #book #podcast #story #novel #puisi #sajak #cerita #kutipan #buku #reminder #review #sukabumi #wisata #opentrip #valley #hiking #mountainJangan

 lupa like, share, dan subscribe untuk video yang lainnya!

Salam Roti!
- Roti

My Other Account Link: https://linktr.ee/ridhos_pasop

-------------------------------------------
Jangan lupa add akunku yang lainnya ya =)
FB: facebook.com/ridhospasop
Fanpage: facebook.com/ridhopasopati
Twitter: twitter.com/ridhos_pasop
Ask.fm: ask.fm/ridhos_pasop
Instagram: instagram.com/ridhos_pasop
Soundcloud: soundcloud.com/ridhos_pasop
Medium: medium.com/@ridho.pasopati

Line: @ridhos_pasop
OA: @yjs6997c

Blog: ridhospasop.blogspot.com
Project: rhotchiproduction.blogspot.com

Youtube Channel:
Ridho Pasopati
Turotial (Tutorial Roti)
Roti's Gaming
Roti's Life in Action

Jumat, 07 Februari 2025

Hari Terakhir Menjelang Perjalanan Dinas Terakhir Menggunakan Gerbong St...


Hari-Hari Terakhir Menjelang Perjalanan Dinas Terakhir Menggunakan Gerbong Stainless Steel New Generation untuk KA Logawa

Rencananya mau naik dia dari Jogja ke Surabaya tapi tiketnya abis, yaudah naik KA Sancaka. Eh pas di Surabaya malah papasan sama dia yang ke arah Purwokerto. Rekamannya pun bukan hari terakhir tepat, tapi 2-3 hari menjelang pergantian jenis gerbong kereta.

KA Logawa harus merelakan gerbong Stainless Steel New Generationnya dan digantikan dengan gerbong Stainless Steel generasi pertama karena kereta ini mendapatkan perubahan perjalanan dinas yang semula Purwokerto - Surabaya - Jember menjadi Purwokerto - Surabaya - Ketapang. Banyak pihak sangat kecewa karena Stainless Steel New Generation memang cukup nyaman banget, sedangkan kerete jenis ini dikabarkan tidak mendapat restu berdinas ketika melewati Terowongan Garahan.

#fyp #quote #poem #book #podcast #story #novel #puisi #sajak #cerita #kutipan #buku #reminder #review #kereta #train #keretaapi #purwokerto #ketapang #ssng 

Jangan lupa like, share, dan subscribe untuk video yang lainnya!

Salam Roti!
- Roti

My Other Account Link: https://linktr.ee/ridhos_pasop

-------------------------------------------
Jangan lupa add akunku yang lainnya ya =)
FB: facebook.com/ridhospasop
Fanpage: facebook.com/ridhopasopati
Twitter: twitter.com/ridhos_pasop
Ask.fm: ask.fm/ridhos_pasop
Instagram: instagram.com/ridhos_pasop
Soundcloud: soundcloud.com/ridhos_pasop
Medium: medium.com/@ridho.pasopati

Line: @ridhos_pasop
OA: @yjs6997c

Blog: ridhospasop.blogspot.com
Project: rhotchiproduction.blogspot.com

Youtube Channel:
Ridho Pasopati
Turotial (Tutorial Roti)
Roti's Gaming
Roti's Life in Action

Sabtu, 18 Januari 2025

Bagi yang udah tau, jangan ngasih tau ya!


Bagi yang udah tau, jangan ngasih tau ya!
Di sini cuman ada tempe sama perkedel

Insya Allah rilis sesuai jadwal
Kalo gak sesuai jadwal, tungguin aja di hari itu wkwkwk

#fyp #quote #poem #book #podcast #story #novel #puisi #sajak #cerita #kutipan #buku #reminder #review #poles #kaca #poleskaca #males #keren #asik 

Sabtu, 04 Januari 2025

Liburan ke Pangandaran Bersama Temen Kantor


Liburan ke Pangandaran Bersama Temen Kantor
2023 Desember 15-16

Lucu kan baru di-upload wkwkwk
Ceritanya video udah jadi kok, tapi buat kantor. Ini aja sebagian besar yang aku rekam, atau yang ngeliatin aku di situ. Kemudian problem di pos kemarin juga ada, yaitu masalah laptop wkwkwk

Jadi ini seperti private trip ke Pangandaran. Untuk harga dan sebagainya namanya juga ngikut orang kantor ya mana saya tau wkwkwk tapi pilihannya ternyata banyak banget, ada Green Canyon, Citumang, Santirah (which is ini tiga opsi yang dikasih sama kantor tapi kita cuman pilih Citumang dan Santirah wkwk), dll. Hotel? Jangan ditanya, di sepanjang tanjung banyak banget hotelnya, sampe yang paling deket dengan Pantai Barat dan Timur pun ada.

Review-nya nanti juga upload sendiri wkwkwk

========================================
Open Trip to Pangandaran, 2023 December 15-16

This is our trip to Pangandaran. You can choose the trip by using open trip in their website, or just visit the destination. There are so many places you can visit, such as Green Canyon (the best and recommended place), Citumang Body Rafting (our recommendation), Santirah, and so on. There are so many hotels in the cape, and the most recommended hotels are in the area between Barat beach and Timur beach.

#fyp #quote #poem #book #podcast #story #novel #puisi #sajak #cerita #kutipan #buku #reminder #review #pangandaran #wisata #opentrip #river #bodyrafting #beach 

Jumat, 03 Januari 2025

Mengabadikan Momen Terakhir KA Baturraden Ekspres


Mengabadikan Momen Terakhir KA Baturraden Ekspres

KA Baturraden Ekspres melakukan perjalanan terakhir pada tanggal 2024 Agustus 31 ke arah Purwokerto dan rangkaiannya dipindahtugaskan untuk KA Mutiara Timur relasi Surabaya Pasar Turi - Ketapang dan sebaliknya.

Eh ini aku rekam di tanggal terakhir keberangkatan loh. Menurut rumor yang beredar di GAPEKA 2025 ini akan ada kemungkinan dia kembali lagi dengan relasi yang lebih panjang, atau kemungkinan menjadi fakultatif. Apakah benar? Kita lihat saja nanti. Sampai pos ini dirilis masih belum ada hilalnya, dan baru di-upload karena ngantre wkwkwk

============================================

One last ride KA Baturraden Ekspres

KA Baturraden Ekspres has its last trip on 2024 August 31 to Purwokerto and then its train would be moved for KA Mutiara Timur relation Surabaya Pasar Turi - Ketapang and vice versa. This video was recorded during its last trip in Bandung, and the rumour from GAPEKA 2025 KA Baturraden Ekspres will be coming back not regularly. Is it true? We'll see...

#fyp #quote #poem #book #podcast #story #novel #puisi #sajak #cerita #kutipan #buku #reminder #review #kereta #train #keretaapi #purwokerto #bandung #lasttrip

Rabu, 25 Desember 2024

Podcast POLES KACA | Episode 1 | Tentang Definisi


Podcast POLES KACA | Episode 1 | Tentang Definisi

#Podcast #saran #ngobrol 
Halo semua!

Selamat datang di podcast yang tidak punya makna, tidak punya inti, dan tidak punya tujuan karena podcasts ini hanya akan mengurangi IQ Anda dan mengurangi kejeniusan Anda. Tidak ding, bercanda~ POLES KACA ini akan ada bermacam-macam podcasts yang berisi tentang hal-hal apa saja yang terjadi di dunia ini mulai dari pengalaman pribadi hingga hikmah yang didapat dari suatu kejadian di dunia ini, baik bersifat nasehat, renungan, syukur, maupun what-if-scenario.

Episode kali ini ceritanya bahas tentang definisi POLES KACA.

Jangan lupa like, share, dan subscribe untuk video yang lainnya!

Salam Roti!
- Roti

-------------------------------------------
Jangan lupa add akunku yang lainnya ya =)
LinkTree Account: https://linktr.ee/ridhos_pasop

Minggu, 13 Februari 2022

Secondhand Serenade - Stay Close Don't Go (Cover by Ridho Pasopati)


Bikinnya pas di kosan waktu coolyeah, pas kosong-kosongnya. Sayangnya pas Drum nggak niat jadinya jelek.

Jangan lupa like, share, dan subscribe untuk video yang lainnya!

Salam Roti!
- Roti

-------------------------------------------
Jangan lupa add akunku yang lainnya ya =)
FB: facebook.com/ridhospasop
Fanpage: facebook.com/ridhopasopati
Twitter: twitter.com/ridhos_pasop
Ask.fm: ask.fm/ridhos_pasop
Instagram: instagram.com/ridhos_pasop
Soundcloud: soundcloud.com/ridhos_pasop
Medium: medium.com/@ridho.pasopati

Line: @ridhos_pasop
OA: @yjs6997c

Blog: ridhospasop.blogspot.com
Project: rhotchiproduction.blogspot.com

Youtube Channel:
Ridho Pasopati
Turotial (Tutorial Roti)
Roti's Gaming
Roti's Life in Action

Minggu, 08 Agustus 2021

Cinta yang Tulus

 "Sebenernya aku mau marah sama kamu. Tapi cinta yang dilandasi amarah itu cinta palsu."


Terus terang aku nggak mau main definisi, main pake ketentuan, atau main pake apapun itulah. Tapi aku pengen cerita sama siapapun, gimana rasanya berada di tingkat ini.


Menurutku ini tingkat paling aku nggak pernah rasain sebelumnya. Dan kalo ada perempuan yang aku cintai tulus banget di dunia ini, aku pengen nikahin dia. Serius.


Pencarianku udah selesai. Aku udah nemuin keputusan yang membuatku harus menerima konsekuensi terbesar dalam percintaan: patah hati yang cukup besar hingga menghancurkan mental, jika aku gagal. Tetapi jika aku berhasil, aku akan bersyukur karena aku takkan mungkin ragu lagi, dan pasti tak pernah ragu. Rasanya nggak nyari lagi itu ternyata enak banget. Dulu bawaannya kalo gadapet harus diem, nangis, bingung, prestasi anjlok, iman anjlok, sampe harus nyari ke semak belukar cuman buat dapet penggantinya. Sekarang rasanya nyaman banget, bahkan pengen banget bisa lanjut hubungan sampe nikah. Tapi, bisa nggak ya? Karena nikah itu bukan tentang satu pihak, tetapi dua pihak yang udah meyakinkan dirinya satu sama lain. 


Tapi alhamdulillahnya, aku udah pasrahkan keputusanku ini pada Allah. Aku bukan tipe orang yang dapat mengubah hati orang. Jadi, aku percaya Allah aja yang dapat mengubah hati orang.


Cinta yang tulus itu rasanya gini ya. Ketika pasangan yang kamu cintai merasa bersalah, kita bisa memahami dan memberikan solusi buat dia. Bukan lagi blame, tapi langsung tame. Gak gampang sih, apalagi kalo awalnya nggak kenal-kenal amat. Kalo kenal mah beda, soalnya aku ngalamin wkwk. Salah itu bisa diperbaiki. Selama dia salahnya nggak fatal mah justru bisa diperbaiki. Meskipun sebagian orang bilang sekali salah bakal kehilangan kepercayaan, aku ngerasa kalo udah tulus mah selama gak fatal-fatal amat ya bisa dimaafin.


Mengenal seseorang itu berat cuy! Apalagi pasangan sendiri. Aku aja butuh 6-7 tahun buat kenal sama bakal calon istri. Itu aja lika-likunya banyak wkwk. Mendapatkan jenjang cinta yang tulus itu berat, apalagi kalo sukanya ngungkit masa lalu atau kesalahan. Kata "gapapa" bisa jadi nyembunyiin perasaan nggak enakan sama orang, biar dia nggak overthinking. Tapi ujung-ujungnya malah tambah overthinking. Emang salah satunya harus mengerti dan memahami pasangan, termasuk kondisi pasangan saat itu. Cinta itu tentang 3 masa: mencintai masa lalu, mencintai kondisi sekarang, dan mencintai rencana ke depannya. Jadi kalo udah tulus, harus ngerti banget tuh namanya masa.


Cinta yang tulus emang rentan dikecewain. Tapi bandingin sama cinta yang dikejar, kecewanya beda banget. Kalo cinta yang tulus: kecewa mah waktu itu aja, terus nanti diganti lain, atau udah sembuh sendiri. Kalo cinta yang dikejar: kecewa mah langsung bahas lain-lain. Bisa jadi bahas cerita yang nggak dilakukan. Jangan salah! Cinta itu nggak bisa didefinisikan, dan kalo ada yang ngaku cinta tulus itu tekebo.


Karena cinta yang tulus cuman bisa dilihat pake mata batin.


Kalo kamu udah nemuin titik ini, aku bilang selamat! Kalo kamu cari gantinya mah gampang. Formulanya udah nemu soalnya. Tapi kalo belum dapet, coba pelajari lagi. Cinta tulus itu definisinya banyak. Ada yang pake fulus juga wkwk. Jadi kalo kamu mau definisiin cinta tulus, definisikan sampe kamu itu bisa berubah menjadi lebih baik.


Kalo aku?

Cinta yang tulus itu udah nggak ngeliat kekurangan pasangan. Semakin aku melihat kekurangannya, semakin aku cinta sama dia. Justru makin sayang kalo dia fokus sama kelebihannya. Intinya mah sabar tingkat dewa, yang kata orang sabar itu ada batasnya karena usus aja nggak panjang-panjang amat wkwk.


Udah nemu?

Udah. Aku nggak akan cerita siapa orangnya. Intinya ada kok. Eh udah disebut di atas ya? Wkwk... yaudah itu tuh di atas ada.


Terus gimana?

Aku dari awal pas suka sama dia itu udah pasrah sama Allah. Alhamdulillah udah dilancarin terus, tinggal cobaannya aja yang belum wkwk. Kalo aku nemu cobaan ini, aku harus sabar. Aku tau konsekuensinya, jadi aku nggak perlu khawatir. Kalo ujung-ujungnya lepas ya nanti diganti sama Allah. Kalo nggak sih ya alhamdulillah dapet. Aku orangnya yakin sama pilihanku, guys! Jadi yakin banget aku bisa lulus ujian kali ini.


Buatku, cinta tulus itu kaya gini. Rasanya udah nggak kaya dulu yang sampe ngikutin organisasi yang diikuti sama gebetan. Masih inget sampe harus marah-marah di grup dulu biar dia sadar. Eh masih aja diulangin. Masih inget dulu sampe harus ngatur jadwal buat ketemuan sama gebetan, eh tau-tau kebodohan sendiri wkwk. Sekarang orang yang aku cintai kondisinya gimana, dimana, kapan bisa ketemu, apa yang pengen diceritain, dan ngapain aja di sana udah nggak terlalu kepikiran. Kalo udah tulus gini, bawaannya yakin banget dan positive thinking. Udah nggak ada waktu bikin dia kagum. Cukup jadi yang lebih baik aja.


Karena cinta tulus itu udah sampe tingkat tinggi. Cinta tulus yang dibarengi dengan cinta pada Allah itu bakal bikin tentrem dan nyaman. Dan cinta tulus dibarengi cinta pada Allah dan berbalas itulah kenikmatan dunia yang dicari-cari oleh khalayak remaja zaman sekarang. Tapi kadang lucunya, remaja zaman sekarang ketipu sama cinta tulus-tulusan. Adanya mah jadi bucin berkedok cinta tulus.

Sabtu, 31 Juli 2021

Capek Ngejar

 "Aku udah suka sama orang lain. Plis stop ngejar aku lagi."


Aku bingung sumpah definisi mengejar orang itu gimana. Apalagi stalking ya. Serius. Bukan bermaksud membenarkan kegiatan ini ya. Pastinya siapa sih nggak suka dikejar orang. Sales aja kalo ngejarnya sampe nggak lepas pas aku makan pastinya risih. Betul? Semua orang sepakat. Apalagi tentang hubungan.


Batasan mengejar itu seperti apa sih?

Aku suka menganalogikan mengejar itu seperti naik bus Transjakarta Non-BRT (hehe, Pondok Labu idamanku wkwk). Udah bis datangnya 15-30 menit sekali, berhentinya cuman setengah menit doang. Kalo cuman pengen bisa naik bis, namanya mah bukan mengejar. Mengejar bagiku adalah udah pengen naik bis, harus tepat waktu di halte, nggak perlu nunggu, bus harus udah di depan. Ibaratnya, kalo aku udah mulai lari ketika liat bis berarti aku mengejar. Sampai di sini paham kan?


Aku masih inget dulu dikasih tau sama temen soal ngejar cewek. "Dho, gapapa kok jatuh cinta. Tapi kalo sampe kamu bikin gambar wajahnya, pasang di status, seolah-olah dia baca dan marah, ya namanya ngejar itu mah. Kasihan ceweknya." Betul banget! Makanya kan tobat abis lulus kuliah wkwk. Sejak pertemuanku dengan salah satu anak rohis terkemuka (gausa disebut lah ya, udah nikah orangnya), dia ngajarin aku cara untuk melepas cewek. Caranya? Suruh baca Al Quran! Masih inget dulu caranya jadi seorang temen curhat dimana dia mau dengerin semua unek-unekku. Wah emang calon istri banget wkwk.


Pernah ngejar cewek, Dho?

Pernah, tapi dulu banget. Bahkan aku bilang pas zaman Jahiliyyah. Aku inget sampe ke kelasnya si gebetan sampe gambar wajahnya di dinding. Kurang kerjaan apa coba? Wkwk. Tapi bener ketika kamu dibutakan oleh cinta, akibatnya kamu nggak bisa membedakan mana yang bener dan mana yang salah. Mulai ke sini, paling ya dianggep ngejarnya sama si itu tadi yang disinggung di atas. Aku inget sampe nulis surat 2 kali, gambar wajahnya sampe dijadiin background, sampe minta ketemu buat ngobrol.


Sekarang umur 25 tahun, guys! Masa kaya gitu udah dicukupkan. Kalo kamu cinta orang, sewajarnya aja. Jangan sampe minta dibeliin barang-barang seperti kalung sama orang yang kamu sukai (though dia juga suka kamu). Lah bedanya apa sama aku? Cuman beda dimensi perasaan wkwk. Kalo emang bener dia pacarmu, harusnya dia membuat harga dirimu makin tinggi, and vice versa. Kalo sampe masa pacaran aja masih dipos di media sosial, sampe bikin status kelewatan cinta, apa bedanya sama aku yang aku gituin? Paling cuman beda dimensi perasaan wkwk. Aku terakhir suka sama cewek ya sampe nyamperin ke wisudaannya dan bawa kado mahal. Menurutku itu nggak ngejar, karena emang tujuannya mau dateng ke wisudaan. Kecuali kalo ke wisudaannya, di-calling sampe abis baterai, disuruh ketemuan di suatu titik, nah itu baru mengejar. Definisinya pake aku naik bis. Kalo cuman naik bis mah namanya bukan mengejar. Tapi kalo udah harus dateng di sini, bis harus ada di depan, nggak mau nungguin, pokoknya aku hadir harus di dalam bis, itu baru namanya mengejar.


Dan aku tidak merendahkannya. Dia juga pos itu secara private. Justru kalo sampe aku pos di media sosial baru namanya merendahkan dia.


Paham?


Terus sekarang masih ngejar cewek, Dho?

Udah nggak, ges, serius. Udah udzur masa kek gitu. Sekarang mah nongkrongnya sama Allah. Ya Allah, aku minta jodoh yang terbaik lah buat aku. Jodohnya nggak pengen cewek yang genit sama orang lain, mau memperbaiki diri, mau diajak jalan bareng, nyaman, dan nggak peduli sama kekurangan masing-masing. Nah kalo kaya gitu, kamu juga harus seperti itu bukan? Sekarang aku udah kurangin yang namanya nyari cewek, belajar parenting, supel kalo sama temen, bercanda sih ayo gas dari light jokes hingga dark jokes, sampe milih cewek tanpa pandang raga. Rasanya enak banget, nyaman, nggak bikin beban, tambah seneng lagi. Aku ngerti gimana susahnya nyari cewek yang perfect, tapi seperti kata temenku


"Nyari yang sempurna gak akan ketemu, tapi berusaha bareng untuk menjadi sempurna mungkin bisa."


Dan satu kata pamungkas dari temenku (yang lain ini, beda orang wkwk)


"Jodoh gak akan kemana, jangan khawatir jodoh udah diatur Allah. Yakinlah jalan Allah itu indah."


Sekarang aku pengen doain jodohku aja, capek ngejar-ngejar. Kalo spesifik orang udah ada, Dho? Jawabannya, belum ada sampai sekarang. Seneng banget tiap Shalat Tahajud doain jodohku kemana gitu. Ngeliat temen-temenku yang sekarang masih pacaran tapi ada yang masih HTS, menandakan bahwa mereka akan bahagia. Tapi kok tak liat beberapa kok nggak sama pacarnya ya? Nggak serius ya? Wkwk.


Berhenti ngejar orang, ges. Kalo emang kamu udah ada spesifik orangnya, mbok di-Tahajud-in. Dulu aku Tahajud-in cewek yang paling perfect di mataku aja gagal jalan, itu karena pas dia ulang tahun tetiba nolak candaan yang dulu dia sering ceritain di temen-temennya. Oh ya, itu kondisinya aku nggak ngejar dia, ges; cuman Tahajud-in aja. Dan juga kamu jangan kepedean kalo ada yang ngejar kamu, though kamu udah punya pacar. Justru nek aku dikejar mah santai aja, though aku udah punya pacar.


Karena kalo beneran suka mah harusnya nggak ngejar. Bilang aja suka dan rencana ke depannya mau ngapain. Kalo aku udah punya pacar, bilang aja "aku kan udah punya pacar nih, tanggapanmu gimana?" Kalo emang dia serius ya buktikan, jangan cuman karena pacarmu nyaman terus kamu seenaknya bilang "gamau ngecewain orang lain". Yakin kamu nanti nggak kecewa pas ditinggal 2 orang? Justru kalo pas kamu punya pacar terus ada yang ngejar kamu dan memaksa, bilang aja "kesempatanmu nanti ya. Kamu bisa berbenah diri dulu. Jangan terlalu berlebihan dalam mencintai seseorang."


Ngejar itu capek, ges. Udah mending diem aja dan baca puisiku yang aku buat waktu coolyeah wkwk asik-asik loh pas aku bikinnya di depan jendela membayangkan cewek idamanku wkwk btw di puisiku bukan untuk memuji salah satu cewek yang pernah kusuka, tapi emang dulu punya imaginary girl yang pengen aku nikahin kalo ketemu orangnya wkwk.

Selasa, 27 Juli 2021

Babi Ngepet? - Kesalahan Memaknai "Gaib" dalam Quran

 Sebelum nulis ini sebenernya agak bingung juga sih dengan kisah ini. Bayangin aja seorang ustadz yang notabene seseorang yang mampu membuat orang percaya hal-hal "gaib" membuat sebuah kegaduhan di masyarakat dengan mendatangkan isu babi ngepet. Babi ngepet adalah sebuah tradisi pesugihan dengan menggunakan media babi dan ditugaskan untuk mencuri harta orang-orang yang dia incar. Sebelum kita bahas lebih lanjut, mungkin ada yang bertanya-tanya bahkan menyangkal pernyataanku tentang hal-hal "gaib". Kita luruskan bersama saja bahwa Allah, malaikat, setan, iblis, dan arwah orang-orang yang sudah meninggal tidak dapat kita lihat secara kasat mata. Belum lagi kita bicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan dimensi waktu dan tempat yang mungkin saja kita tidak kenal sebelumnya. Definisi gaib itu sendiri berarti tak kasat mata. Mungkin hari ini kita belum bisa melihat Allah, malaikat, setan, iblis, dan arwah orang-orang yang sudah meninggal. Suatu saat nanti kita akan diperlihatkan hal-hal yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

"Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." - Q.S. Al-Baqarah, 2:2-5

Pertanyaan yang aku ingin tanyakan di tulisan ini adalah mengapa seorang ustadz harus mengambil isu babi ngepet agar dia mau dilirik orang? Pertanyaan ini muncul dari caraku mengikuti isu babi ngepet yang dilakukan oleh beliau. Diberitakan bahwa seorang ustadz mengaku mendengar tetangganya kehilangan uang setiap hari. Kemudian beliau mengabarkan bahwa ada babi ngepet di daerah tersebut. Di hari penangkapan babi ngepet tersebut, pengakuannya adalah menangkap babi tersebut dengan telanjang dan mengaku bahwa babi tersebut mengecil setiap waktu. Akhirnya diberitakan bahwa babi ngepet tersebut disembelih pada sore harinya dan akhirnya polisi menyelidiki kasus ini. Temanku, salah seorang pegawai di LIPI, mengatakan bahwa jika sampai seorang peneliti mengidentifikasi babi tersebut maka inilah kualitas pendidikan orang Indonesia saat ini. Di saat di luar negeri sedang meneliti bagaimana cara cloning atau menghidupkan manusia kembali, ilmuwan negara Indonesia masih mengidentifikasi babi ngepet: apakah benar itu babi ngepet atau jenis babi lainnya yang sudah ditemukan. Akhir cerita ini ditutup dengan penangkapan ustadz oleh polisi dan pengakuan sang ustadz bahwa ia ingin dilirik oleh banyak orang.

Aku cantumkan salah empat ayat Al-Quran, yaitu surah Al-Baqarah (2:2-5) yaitu mengenai kewajiban kita (sebagai orang yang bertakwa) untuk memercayai hal gaib. Jika kamu tidak bertakwa, kamu bisa lanjutkan tulisan ini ke bagian akhir. Jika kamu memercayai Al-Quran, kamu akan dihadapkan dengan ribuan bahkan jutaan hal-hal gaib. Aku ambil contoh ayat favoritku, surah Al-Hujurat (49:13). Allah memanggil semua orang yang beriman untuk mengenali orang-orang yang berbeda dengannya, dan Allah mengesahkan bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang-orang yang bertakwa, ditutup dengan fakta bahwa Allah Maha Mengetahui dan Mahateliti. Bagaimana kita tahu orang yang bertakwa jika kita tidak diberi tanda ketakwaan oleh Allah? Inilah yang disebut hal gaib. Kita bisa menafsirkan tanda ketakwaan tersebut (melalui tafsiran ayat-ayat yang lainnya), tetapi tetap hanya Allah yang mengetahui itu semua. Jadi kalo kita bahas tentang pesugihan gini memang kita wajib memercayai keberadaannya karena sudah masuk ke ranah gaib.

Cuman pertanyaannya, mengapa seorang ustadz harus mengambil isu babi ngepet agar dia mau dilirik orang?

Materi gaib itu kan banyak. Syirik masih banyak tuh yang perlu dibahas. Tauhid aja ada pengkategoriannya. Belum lagi kita ngomong tentang aplikasi dan hal-hal yang membatalkan atau memperkuat iman dan ketakwaan. Meskipun menurut penuturan beberapa orang, daerah tersebut memang masih percaya tentang hal-hal klenik seperti babi ngepet atau pesugihan lainnya. Hla mbok materinya tentang hal klenik agar masyarakat menjauhi hal-hal berbau pesugihan. Semua ulama sepakat kalo menyembah hal selain Allah itu dijatuhi hukuman syirik. Ini kan bisa jadi materi. Materi lainnya kan bisa seperti bagaimana cara menjadi kaya ala Islam, materi ibadah, akhlaq, dan lainnya. Semakin materinya diterima masyarakat situ, semakin dirinya dikenal orang. Apalagi kalo bisa mengalahkan kehebatan pesugihan.

Menurutku, mengambil kasus babi ngepet beserta asumsi dari kebanyakan orang tidaklah salah. Namun, lihatlah dampak dari pengambilan isu babi ngepet. Salah satu warganya sampai berani menuduh orang sebagai dalangnya. Jika sudah seperti ini, berarti materi yang dibawakan atau cara yang dibawakan salah. Tidak hanya tentang babi ngepet. Misalkan saja seorang ustadz mengambil materi tentang sombong, lalu pendengarnya ada yang menuduh orang lain sebagai orang sombong: menurutku juga termasuk kesalahan. Harusnya jika mereka paham tentang materinya (misalnya babi ngepet), mereka akan menjauhi babi ngepet dan menjauhi kesyirikan: sama seperti materi sombong. Ini materi "gaib", hanya Allah yang tahu wujudnya. Sebisa mungkin manusia yang menerima materi ini wajib mengetahui dan mengimani keberadaannya. Jika sampai manusia (dengan semena-mena) mengatakan lebih jauh sampai mengetahui orang atau wujudnya dan bersaksi atasnya, bisa jadi makna "gaib" sudah hilang.

Masa ustadz mau berbohong? Jika tidak mau dikatakan bohong, maknailah gaib dengan sepenuh hati dan tidak ada hal terselubung.

Quarter Life - Terima Kasih Telah Berjuang Sampai Hari Ini

 Ridho, izinkan dirimu ini mengatakan banyak hal kepadamu.


Aku salut dengan usahamu saat ini.

Bagaimana kamu berjuang menghapus kata kotor sejak kecil.

Bagaimana kamu berhenti memaksakan pertemanan dengan seseorang.

Bagaimana kamu berhenti menangis karena dunia tidak sesuai ekspektasimu.

Bagaimana kamu berjuang mendapatkan peringkat di kelas.

Bagaimana kamu berjuang mengembalikan ikatan persahabatan yang sudah putus.

Bagaimana kamu berjuang menghindari pacaran saat masih belia.

Bagaimana kamu berjuang mendapatkan tempat tim senior sepakbola saat itu.

Bagaimana kamu berjuang lomba komputer hingga tingkat provinsi.

Bagaimana kamu berjuang mendapatkan jatah siswa teladan dan siswa olimpiade.

Bagaimana kamu memutuskan untuk tidak mengenyam pendidikan di sekolah bilingual hanya agar bisa bertemu teman-teman lama.

Bagaimana kamu berjuang keluar dari pergaulan buruk.

Bagaimana kamu berjuang menghindari pertengkaran fisik.

Bagaimana kamu berjuang membuat mantan pacarmu nyaman hingga rela bersepeda dari utara hingga selatan kota.

Bagaimana kamu berjuang memenangkan posisi nyaris medali di dua olimpiade yang baru kamu ikuti.

Bagaimana kamu berjuang memperebutkan 1 dari 48 kursi akselerasi.

Bagaimana kamu berjuang mengikuti olimpiade terakhir dan mendapatkan juara harapan.

Bagaimana kamu berjuang menjaga hubungan pertemanan dengan gebetanmu saat itu.

Bagaimana kamu berjuang lulus mata pelajaran Biologi yang menjadi momok terbesar bagimu.

Bagaimana kamu berjuang keluar dari kenakalan dengan mengenal rohis.

Bagaimana kamu berjuang mendapatkan tempat di FMIPA ITB.

Bagaimana kamu memilih untuk memperdalam agama karena seorang wanita.

Bagaimana kamu mempersiapkan diri untuk pentas seni.

Bagaimana kamu berjuang mendapatkan tempat di Matematika ITB.

Bagaimana kamu berjuang mengangkat perkakas berat untuk membuat panggung.

Bagaimana kamu berjuang kesana kemari untuk memenuhi kebutuhan panitia.

Bagaimana kamu berjuang menjadi ketua unit.

Bagaimana kamu berjuang menjadi koordinator lapangan di suatu acara.

Bagaimana kamu berjuang meyakinkan seseorang agar mendapatkan jabatan di organisasi.

Bagaimana kamu berjuang menjadi ketua rohis dan amanah di tempat itu.

Bagaimana kamu mengatur waktu agar bisa lulus tepat waktu.

Bagaimana kamu ikhlas ketika motormu hilang dicuri.

Bagaimana kamu tabah saat akhirnya wanita yang kamu cintai saat itu mengatakan apa yang dia pikirkan kepadamu.

Bagaimana kamu berjuang untuk kuliah S2 di luar negeri.

Bagaimana kamu berjuang mencari pekerjaan pertamamu.

Bagaimana kamu berjuang keluar dari penyakit mentalmu.

Bagaimana kamu tegar saat salah satu wanita yang kamu ingin nikahi telah menikah dengan orang lain.

Bagaimana kamu berjuang memenuhi undangan pekerjaan di kampung halaman.

Bagaimana kamu berjuang untuk meyakinkan wanita yang dulu pernah kamu cintai untuk menikah.

Bagaimana kamu berjuang untuk menemui wanita idamanmu saat itu yang lulus 1 tahun setelahmu.

Bagaimana kamu berpisah dengan salah satu wanita yang kamu cintai untuk kerja di luar negeri.

Bagaimana kamu bertahan selama pandemi ini.

Bagaimana kamu bertahan di pekerjaanmu saat ini.

Bagaimana kamu nyaris bunuh diri dua kali karena penyakit mentalmu.


Dan yang paling aku kagumi darimu

Bagaimana kamu bertahan pada pilihanmu saat ini.

Bagaimana kamu bertahan untuk mencintai perempuan yang kamu pernah doakan sejak lama.

Bagaimana kamu bertahan untuk menjaga pandanganmu dari perempuan lain.

Bagaimana kamu mencoba menaruh lamaranmu kepada perempuan pilihanmu.


Dan yang paling aku kagumi sangat adalah...


Bagaimana kamu sabar dalam menghadapi rintangan pada pilihanmu ini.


Kamu telah menentukan pilihanmu hingga beberapa tahun ke depan, bahkan pilihan perempuanmu hingga apa yang kamu inginkan bersamanya.


Bolehkah aku berkata satu hal kepadamu?


Bersyukurlah telah berada di titik ini. Hidup ini sangat terjal bagimu. Jangan pernah menyerah, teman! Kamu sungguh luar biasa. Siapapun perempuan yang mendapatkanmu akan sangat beruntung di dunia ini. Aku yakin itu.


Dia akan mendapatkan perjuangan, kesabaran, keikhlasan, kesetiaan, dan bantuan tak terbatas darimu. Dia tidak hanya mendapatkan janjimu, tetapi kepastian dan rasa lelahmu. Dia akan mendapatkan bimbingan tak terputus darimu. Kamu adalah laki-laki terhebat baginya, meskipun baginya hanyalah seorang perempuan yang tidak berguna.


Apakah kamu siap menghadapi sisa hidupmu, kawan? Aku siap memberikan bantuan terbaik buatmu. Jadilah orang yang baik dan bermanfaat bagi semua orang! Jangan pernah letih dalam memperjuangkan pilihanmu! Kamu adalah laki-laki terhebat di dunia ini.


Do you remember what we have said, friend?

"We will fight until our last breath."

Minggu, 25 Juli 2021

Overthinking Kills You

 "Gimana ya kalo dia gini? Harusnya nggak mungkin lah. Eh jangan-jangan..."


Salah satu kelemahan terbesarku yang tiba-tiba muncul di quarter-life-crisis ini adalah menjadi seseorang yang overthinking. Padahal dulu mah biasa aja loh. Mau dia punya pacar atau nggak, aku mencintainya yaudah gitu lo. Malah kami ini cuman temenan tingkat lebih pas dia ngerti aku suka sama dia. Sekarang meskipun cuman temenan, rasanya jadi banyak pikiran dan seolah-olah terus terpikirkan tiap saat.


Mungkin aku perlu konsultasi dengan kenalan psikologiku wkwkwk

Tapi aku tidak mau bahas tentang kesehatan mental seperti itu, tapi aku mau bahas judulnya.


Overthinking itu membunuhmu

Serius, lebih candu ketimbang rokok.


Dulu itu aku bergumam dengan diriku sendiri masalah ngerjain soal. Bahkan aku tidak pernah berpikir mau lolos atau nggak, nilainya bagus atau nggak, justru sampe mikir "yodah pake jurus satu jawaban aja, toh kita udah gatau mau ke mana nih arahnya". Eh tau-taunya menang, bahkan pernah ngalahin yang terbaik dari tim. ITU DULU wkwk


Bahkan seperti aku bilang tadi, dulu itu nggak pernah kepikiran orang mau cinta aku atau nggak. Bukan nggak peduli, tapi emang orangnya dari dulu pasrah wkwk.


Kenapa ya bisa berubah?

Aku sempet setiap malem nangis cuman karena overthinking.


Puncak dari overthinking-ku ini udah dua kali, gaes. Pertama ketika dulu jatuh cinta sama seseorang yang dulunya pernah aku benci secara berlebihan. Kedua ketika mikirin bakal calon istri (hehe). Pas pertama, aku sempet mau kepikiran untuk bunuh diri, dan hampir udah ngelakuin hingga aku dikasih petuah sama kenalan psikologiku. Aku mengalami represi saat itu (isi tulisannya bisa dibaca di judul tentang depresi/represi). Pas kedua ini aku sempet nulis panjang di instagram story, apa yang aku pikirkan saat itu. Kebetulan bakal calon istriku baca sampe ngepos lagu "See You Again", gatau ya ada hubungannya denganku atau nggak. Aku sempet down banget, tapi aku nggak ngerasa buat bunuh diri. Cuman pengen nyerah aja waktu itu.


Kemudian aku ketemu petuah gini nih (dalam bahasa inggris)

"Overthinking is from Shaytan. Whatever happen in our life, it was the Qadr of Allah and it was best for us. You just have to keep living and not stress over what you can't control. Don't waste your time worring, when Allah is The Controller of everything. Ask Allah to constantly guide you."


Beuh ini loh yang aku cari, dan ini aku yang dulu...


Karena tulisan ini, aku sempet overthinking tapi aku mulai menyembuhkan diriku dengan cepat. Tepat tadi malem saat tulisan ini ditulis, aku sempet overthinking tentang bakal calon istriku (hehe) apakah dia di sana baik-baik aja. Terus tepat jam 12 malem, atau beberapa menit setelah selesai overthinking, aku mulai regain mentalku. Aku bilang sama diriku sendiri,


"Percayalah pada akhirnya Allah yang bantu. Kamu fokus sama apa yang kamu mau saat ini. Tetaplah berdoa untuk hal tersebut. Kecewa dan marah itu wajar, tapi janganlah berlarut. Kalo ada masalah, coba ngobrol sama Allah."


Setiap malem setelah tahajud, aku sering nangis. Aku cerita masalahku saat ini dan aku cerita apa yang aku minta. Buat ngembaliin ini ke semula aja udah susah. Aku rindu zaman dulu ketika nggak pernah kepikiran semuanya. Satu persatu Allah bantu, kadang lewat mimpi, kadang lewat hal-hal yang tidak aku duga.


Aku tau overthinking ini bisa saja berakhir lama. Tapi aku yakin, aku ingin pergi dari jeruji overthinking. Overthinking hampir membunuhku dua kali. Tapi aku punya semangat dan keyakinan... Allah yang bantu semuanya. Akhirnya aku diingetin sama janjiku dulu, dan aku ngerasa satu hal. Aku ngomong sama diriku sendiri.


"Kalo kamu mati tapi janjimu belum kamu tunaikan, jangan pernah kamu minta Surga Allah. Katanya mau janjiin dia ke Surga, tapi janjimu lainnya sudah kamu tepati?"

Selasa, 20 Juli 2021

Start from Yourself!

 "Kalo kamu takut ngecewain seseorang, berhentilah membuatnya kecewa."

Dulu waktu masih jahiliyyah, aku masih inget ngejar cewek sampe setiap kali dia pulang, aku gambar dia di papan tulis sambil nulis "I love you" atau semacam kata-kata yang mana tujuanku adalah membuktikan bahwa aku cinta dia dan tidak ingin membuatnya kecewa. Apakah berhasil?


Harusnya berhasil dong, wong tinggal minta bukti kalo anak matematika bilang mah.


Ternyata nggak cuy! Malah tambah marah dan kecewa. Kok bisa? Padahal kan kalo kita bikin aksioma, teorema, lema, dan segala teorinya matematika pastinya dapet kesimpulan kalo kita ngomong jujur?


Cewek nggak mau digituin ternyata.


Dulu juga pernah ketika jatuh cinta sama seorang cewek sampe aku bilang, "dunia akhiratku ingin bersama jelitamu." Ngomongnya ini sama seseorang yang nggak pernah pacaran. Harusnya bisa loh, karena secara bukti memang si cewek cantik banget. Bahkan dia itu suka makan ikan. Itu burung pelikan, nak wkwk apa hubungannya...


Ternyata dia langsung bilang, "terima kasih udah suka sama aku, tapi mohon maaf ya aku udah suka sama orang lain".


Padahal dijanjiin dunia akhirat loh.


Sama kok, cewek nggak mau digituin.


Aku juga pernah ketika janji sama temen buat belajar kelompok. Kebetulan saat itu aku masih in-game (karena ekspektasinya cuman 30 menit aja udah selesai). Dia sempet telpon aku berkali-kali tapi aku sudah bilang untuk masuk saja tanpa perlu ragu dan malu.


Sama kok, dia juga nggak mau digituin.


Padahal aku tidak ingin membuat mereka kecewa.

Cerita pertama aku ingin jadi laki-laki yang setia dan perfect, lebih dari yang lain. Kita udah nawarin jadi pacar terbaik, pacar idaman, pokoknya udah kek sales deh. Tapi kok nggak mau? Padahal cuman dikasih kata-kata.

Cerita kedua aku juga ingin mencoba serius mencintai dia. Padahal dia juga tau posisiku saat itu pengurus rohis. Niatnya juga ingin jalan lebih jauh lagi. Tapi kok nggak mau? Dan alasannya suka sama orang lain.

Cerita ketiga aku ingin menepati janji, tapi ada unexpected incident (game gak selesai sesuai target). Aku minta dia masuk dulu untuk nunggu beberapa menit aja sambil ngobrol. Tapi kok nggak mau? Padahal abis game juga langsung belajar.


Start from yourself!


Hubungan dari kata-kata tadi sama ceritaku apa? Gak nyambung ya? Wkwk nyambung kok. Kita pasti berusaha untuk tidak ingin membuat kecewa orang dengan kata-kata. Kadang tidak perlu kata-kata, bahkan kelakuan kita mengisyaratkan untuk tidak ingin membuat orang lain kecewa. Tetapi buktinya apa? Satu orang nggak mau dijanjiin. Satu orang nggak mau dirayu. Satu orang nggak mau disuruh masuk tanpa ketemu sama tuan rumah. Mereka kecewa, padahal kita tidak berniat untuk mengecewakan mereka.


Berhentilah mengecewakan jika kamu tidak ingin orang lain kecewa.


Jika kita sudah bertindak saja bisa membuat orang lain kecewa, apalagi kalo kita cuman ngomong "aku takut mengecewakan orang lain". Justru jika kita emang nggak mau bikin orang lain kecewa, ya kita berhenti untuk mengecewakan mereka. Entah bagaimanapun caranya, kita akan tergerak untuk tidak mengecewakan orang lain dan berusaha semaksimal mungkin. Kita takkan bisa mengontrol rasa kecewa orang lain, tetapi kita dapat mengontrol diri kita agar tidak membuat orang lain kecewa.


Orang tidak butuh kata "takut kecewa". Orang-orang butuh kamu bertindak agar mereka tidak kecewa. Jika kamu takut bikin orang lain kecewa, pilihannya ada dua: nggak perlu ngelakuin apa-apa, atau nggak perlu hidup.

Minggu, 11 Juli 2021

Kamu Serius Nggak Sama Aku? Kok Nggak Pernah Chat?

 Alhamdulillah jika kamu di sana nggak nanyain ini wkwk. Tapi aku akan menjawab duluan pertanyaan yang biasa orang sampaikan kalo ketemu seseorang yang lagi LDR atau mungkin masih berjuang tapi kepentok di komunikasi. Sekali lagi ini adalah opini pribadi, jadi kamu kalo gak srek ya bisa cari sendiri solusinya.


Kunciku dalam membangun hubungan itu: nyaman.


Maksude?

Nyaman setiap orang berbeda. Dulu pas aku masih zaman jahiliyyah, definisi nyaman dari si cewek itu yang penting gak memaksa; alias semua pihak punya hak untuk mencintai. Kamu boleh suka sama aku, tapi aku nggak jamin aku suka sama kamu. Tapi kita saling menghargai perasaan. Malah justru kita paham batas-batas rasa suka. Kita dulu saling bercanda dan ngobrolin hal-hal gaje. Jadi, selama kita udah paham batesnya ya udah komunikasi biasa aja. Kalo udah nyaman sama friend zone, kenapa harus melanjutkan ke jenjang pacaran? Mending nikahin aja langsung.


Sejak terakhir pacaran, aku ngerasa pacaran itu gunanya jadi menyimpang karena setelah ada ikatan "pacaran", duniamu jadi sempit. Jangankan kamu bisa ngobrol sama temenmu cewek sekelas, sama ibumu saja kamu bakal dicurigai sama pacarmu. Karena pacaran kadang ujung-ujungnya jadi gini, aku sepakat buat tidak pacaran. Buatku, pengennya pacaran itu buat kenalan. Yaah sekelas taaruf. Karena definisi aslinya setelah belajar taaruf itu sama dengan pacaran halal, jadi aku bedain langsung di situ. Buatku, taaruf itu pacaran tapi ngobrolnya sama walinya si cewek. Kalo pacaran itu langsung ke ceweknya. Karena taaruf menurutku lebih serius, aku lebih prefer taaruf dibandingkan pacaran. Kenapa? Karena harga dirimu dipertaruhkan. Kamu pikir gampang banget ya mempermainkan hati orang lain? Kalo udah taaruf, kamu yang jadi taruhannya. Kamu sekali nakal, kamu nyaris nggak akan mungkin dapet idamanmu.


Serius itu udah "mengaktifkan" hukum karma. Kamu nakal sekali, kamu kena getahnya.


Aku nyadar gini udah lama, bahkan sebelum memutuskan untuk melamar ke salah satu orang yang aku cintai. Dulu banget aku pernah dimainin sama cewek, dijelek-jelekin cewek, bahkan dimarah-marahin cewek. Kenapa? Karena zaman jahiliyyah aku juga gitu. Makanya pas aku mencoba melamar, aku yakinin diriku dulu. Bismillah sama kamu!


Aku harus ubah semua kelakuanku masa jahiliyyah, salah satunya adalah komunikasi yang menjatuhkanmu ke dalam maksiat.


Banyak yang mikir "komunikasi selaras dengan hubungan". Kalo aku? Nyamanin dulu. Nyaman itu nggak cuman masalah komunikasi, tapi masalah detil yang bikin kamu kesel. Tau nggak apa itu?


Kelakuan lawan bicaramu.


Ada orang yang kamu ajak serius ngobrol tapi dia bercanda. Ada orang yang nggak mau ada bercanda di dalam komunikasi. Ada orang yang dikit-dikit marah, dikit-dikit tersinggung, dll. Berat lah pokoknya. Tapi kunci dari sebuah hubungan menurutku adalah.


Nyaman.


Kalo emang cowok itu serius, aku pernah bilang sebelumnya: dia akan berhenti mengejar dan berdoa lebih sering. Dia paham kalo semua hal kaya gini bakal sia-sia tanpa bantuan Allah. Allah yang punya hatinya manusia, ya mintanya ke Allah lah. Tapi inget! Minta ke Allah jangan sembarangan. Harus dipikirin dengan mateng. Setelah dikasih, jangan ngelunjak! Dengan semua fakta ini sebenernya kan kita disuruh satu hal.


Perbaiki hubungan sama Allah.


Ketika kita percaya Allah kasih sesuatu yang paling baik, tugas kita berarti kan menerima itu semua. Jangan dipikir gampang loh ya! Kamu dikasih sembako aja mungkin kamu marah-marah karena berasnya gak cocok, nah ini hampir mirip tapi lebih ribet. Maka dari itu kuncinya adalah nyaman dan percaya dulu. Kalo keduanya udah dapet, justru komunikasi dengannya jadi lancar.


Jadi kalo gabisa komunikasi bukan berarti nggak serius. Justru yang bikin kita nggak serius adalah nggak percaya sama takdirnya Allah.

Kamis, 17 Juni 2021

"Hati Tidak Dapat Dipaksakan", Bukti Nihilnya Tuhan di dalam Hati

 Aku masih inget zaman reformasiku dulu seorang kenalan pernah ngomong kepadaku, "Dho... hati itu nggak bisa dipaksakan." Namanya juga reformasi, artinya kan perubahan kalo kata aktivis. Masa-masa reformasi itu masa-masa perubahan kita dari fase anak kecil menuju kedewasaan yang lebih tinggi. Wajar dong kalo pas zaman itu kita ngomong kaya gitu, kek gampang banget gitu menolak sesuatu berdasarkan hati.


Tapi kamu sadar nggak sih kalo kata-kata itu bukti kalo Tuhan (Allah SWT) nggak ada di hati kita? Nggak percaya?


Lanjut cerita nih, semakin abis kuliah dan ikut kajian sono-sini, semua ustadz yang aku temuin ngomongnya sama loh, "kalo nggak dipaksain nggak bakal berubah." Awalnya aku nggak percaya, karena pastinya semua kalo nggak pake hati ya nggak ikhlas jadinya. Tapi temen-temen cobain deh namanya belajar.


Nih aku ceritain dari sisi aku.


Dulu aku bukan orang yang pandai diantara temen-temenku sekolah. Kalo jujur sih, aku paling bego diantara semua temenku. Paling yaah cuman jago di matematika doang, sisanya mah cupu banget. Eh ketauan nih ranking matematika juga lebih rendah, kalah sama yang jago. Tapi tau nggak sih aku belajar terus hingga pernah mencatatkan nilai fisika dari 30 menjadi 91? Itu terpaut 61, bro! Itu juga nyelametin indeksku dari possibly-D (kemungkinan besar indeks D) menjadi nearly maximum-AB (nilai mendekati maksimum AB, karena pada saat itu aku ngitung nggak bakal bisa jadi A. Btw nilai AB itu 1 tingkat di bawah nilai A tetapi 1 tingkat di atas nilai B). Apakah itu nurut kata hati? KAGAK CUY! Udah gak jago fisika, disuruh minimal lulus mata kuliah fisika. Eh baru percobaan pertama dapet 30. Apa yang aku lakuin biar dapet nilai 91?


AKU BELAJAR HINGGA PUKUL 3 PAGI! It costs my health karena abis ujian langsung drop 3 hari. Tapi tau nggak kalo itu semua dipaksain.


DAN ITU BISA!


Kadang kita nyerah dengan keadaan karena kita terlalu nyaman sama diri sendiri. Istilahnya sih terlalu bernostalgila sama kenyamanan. Sampe-sampe mudah banget ngomong "hati gabisa dipaksain". Gabisa dipaksain, atau gamau? Sekarang aku tanya, berapa banyak orang yang fisiknya (mohon maaf) nggak sempurna tapi bisa mendapatkan gelar juara olimpiade? Mereka menang karena MAU BERUBAH, bukan karena lawan yang sama-sama fisiknya (mohon maaf) nggak sempurna. Bahkan beberapa dari mereka bisa menang melawan orang normal.


Allah juga udah janji sama manusia loh, ada yang inget?


"Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut mengubah dirinya sendiri." - intisari dari surah Ar Ra'd, 13:11


Sekarang kita tanya sama hati kita, mau berubah nggak? Kalo mau, ya Allah akan mengubah nasibnya. Kalo nggak? Ya Allah nggak mengubah nasibnya.


Hati itu kalo kita nggak latih untuk melakukan niat baik, ya hasilnya belum tentu baik. Kalo dari dulu nggak dilatih buat bersedekah, sekalinya sedekah belum tentu kaya orang bersedekah. Bisa jadi hatinya nggak enakan sama tetangga? Kita nggak tau kan? Hal kaya gitu justru bikin kita nggak ikhlas beribadah dan jatuhnya jadi riya', atau memamerkan kebaikan kita di depan orang lain biar dapet pujian.


Ngeri nggak? Tapi bisa jadi awalnya cuman ngikutin kata orang atau riya' kemudian berubah menjadi ikhlas dermawan. Bisa? Pasti!


Terus kok bisa aku bilang kata-kata tersebut adalah bukti nihilnya Tuhan di dalam hati kita?


Allah itu Maha Segalanya, cuy! Penguasa hati manusia. Percaya nggak kalo Allah cuman butuh ngendika "kun fayakun" terus semuanya jadi? Kamu ngomong gitu ke orang, kamu udah menyiratkan ke orang tersebut bahwa kamu nggak percaya kuasa Tuhan. Hati-hati cuy! Pintu kesyirikan itu banyak, cuy! Jangan sampai kata-kata ini menjadikanmu syirik hanya karena itu.


Aku pernah ngomong ini kok, bahkan ke banyak orang. Tapi aku itu sadar, bukannya hati yang tidak dapat dipaksakan; tetapi emang kita gapunya niat buat berubah. Kalo kita terusin, bisa jadi kita tertutup hati kita buat ngeliat orang lain. Hidayah Allah bisa jadi nggak masuk-masuk. Mau? Pastinya nggak kan?


Tapi bukan berarti kita udah jadi syirik terus udah. Allah itu Maha Pengampun. Pas aku sadar itu aku berubah dikit-dikit. Awalnya nggak suka kangkung jadi penggemar ca kangkung. Awalnya benci sama seseorang akhirnya jadi jatuh cinta, yah meskipun dibikin kena penyakit mental wkwk.

Ngikutin kata hati itu udah wajar dan biasa. Tapi kalo hati kita nggak dipaksa memanggil nama Allah, beranikah kamu mengucap "hati tidak dapat dipaksakan?"

Sabtu, 28 November 2020

Memaknai Kekurangan dan Kesalahan Rasulullah SAW

================================================


"... Bro, dengerin! Rasulullah saja pernah berbuat salah," celetuk salah satu sahabatku lulusan sekolah Islami ketika dia mencoba menenangkan sahabatku yang lainnya yang sedang berjuang melawan penyakitnya.


Mungkin pas kamu baca judul ini, pasti kamu akan bertanya-tanya. Eh jika kamu golongan itu sih bakal menilai pos ini "menghina" Rasulullah SAW. Nah makanya aku pengen coba kita sama-sama memaknai maksud dari pernyataan ini. Pernyataan ini sebenernya juga bikin aku geregetan ketika seorang ustadz/ulama saat berceramah TIDAK BOLEH mengungkapkan kekurangan Rasulullah SAW. Aku menyimpulkan ini karena salah satu ustadz dari golongan tertentu pernah hampir kena pasal penistaan agama, cuman karena menyatakan bahwa Rasulullah SAW itu manusia biasa. Salah satu ustadz terkemuka aja pernah didakwa dengan pasal yang sama cuman karena ngomong "Allah punya hak prerogatif", which leads us ke pernyataan "Rasulullah bisa saja masuk neraka".


Tapi pernahkah kita memaknai kekurangan dan kesalahan Rasulullah SAW? Jangan-jangan karena kita terlalu suka mendengarkan kelebihan-kelebihan Rasulullah SAW, akhirnya pas ada orang yang bilang seperti hal di atas kita kebakaran jenggot, eh rambut kepala.


------------

Asumsikan kamu mau beli handphone. Hal pertama apa yang membuatmu nge-hook (tertarik) untuk beli suatu jenis handphone? Nggak mungkin kan kamu beli handphone karena kekurangannya? Pasti kamu beli handphone sesuai spesifikasi dan kelebihannya. Di mana kamu tau informasi ini? Pastinya dari iklan, sales, atau penjaga counter di sana, bukan? Atau mungkin saja dari tetanggamu yang suka nanyain kamu "sudah nikah belum" wkwkwk. Pernahkah mereka kasih tau kekurangan barang yang dia jual? JARANG! Kalo iya mah barang dagangannya kagak laku.


Tapi coba bandingin kamu beli handphone dari orang-orang tadi dengan reviewer jujur (bukan endorse), lebih puas mana? Reviewer jujur itu seseorang yang nge-review dari kelebihannya hingga kelemahannya.


Setelah kupikir-pikir, dosen juga seperti itu ya wkwkwk. Aku jarang banget dapet mata kuliah yang membahas sisi gelap jurusan matematika wkwkwk.


Analogi tadi sama banget seperti ustadz-ustadz yang suka ceramah. Selama aku dateng ke banyak kajian dan ceramah, banyak banget materi yang disampaikan selalu membahas tentang indahnya Rasulullah SAW dan Islam itu sendiri. Kalo membahas kekurangan si tidak pernah secara gamblang dibicarakan. Paling mentok si cuman nyeletuk sepatah kata aja, tapi terus yaudah. Tujuannya apa? Agar kita sebagai seorang muslim itu BANGGA punya Rasulullah SAW yang udah maksum (pake ejaan Indonesia ya), panutan umat Islam, pokoknya the hero of Islam. Loh kamu harus bangga punya panutan yang kelebihannya melewati seisi bumi wkwk.


Tapi pernah kepikiran nggak setelah kamu mengenyam Islam sampai detik ini, khusus kamu yang memeluk Islam, pernahkah Rasulullah SAW melakukan kesalahan atau memperlihatkan kekurangan beliau?


Sebelum lanjut, kamu harus yakin dulu dengan ke-Islam-an kamu. Kalo nggak yakin, yaudah nih semuanya tanggung jawab masing-masing.


Salah satu keagungan dari Rasulullah SAW yang selama ini aku dapatkan dari kajian, pelajaran agama, dan kehidupan yang selama ini aku lalui adalah bagaimana RASULULLAH SAW MENYADARI KEKURANGAN DAN KESALAHANNYA. Kekurangannya? Ketika piagam Madinah dibuat, Rasulullah SAW menyuruh Ali bin Abi Thalib ra. untuk menulis dan membantu beliau menandatangani piagam tersebut. Hayo kenapa? Ternyata sudah di-state saat awal kamu belajar agama Islam di sekolah bahwa Rasulullah SAW buta huruf! Karena mengerti kekurangan beliau, beliau mengutus Ali bin Abi Thalib untuk menulis! Dan memang setelah aku baca semuanya, Ali bin Abi Thalib ini salah satu orang spesial. Belum lagi kita bicara kekayaan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab yang mana diceritakan sekali sedekah itu bisa ngabisin milyaran kalo diitung saat ini!


Apakah Rasulullah SAW pernah mengulik masa lalu Umar bin Khattab? Tidak.

Apakah Rasulullah SAW pernah menyalahkan Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika melakukan kesalahan? Tidak.

Kalo zaman sekarang, kamu sedekah sedikit aja orang lain bicara tentang kesalahan, kekurangan, dan masa lalu kamu.


Apakah Rasulullah SAW pernah melakukan kesalahan? Pernah! Ketika shalat maghrib aja pernah shalat 4 rakaat! Terus bedanya sama kita apa? Setiap kali Rasulullah SAW melakukan kesalahan, selalu ada sesuatu yang membuatnya ingat. Rasulullah SAW marah, Allah SWT mengingatkan. Rasulullah SAW melakukan kesalahan jumlah rakaat, makmumnya ngingetin. Bahkan ketika orang lain melakukan kesalahan, Rasulullah SAW menegur mereka tanpa harus marah.

Kalo zaman sekarang, kamu salah sedikit aja dimarahinnya sampe kamu nangis. Kalo nggak nangis, bikin kamu nggak nyaman. Belum lagi diungkit terus.


Jadi makna tulisan ini apa?


Rasulullah SAW secara implisit mengajarkan kita untuk mengetahui kekurangan dan kesalahan orang, tetapi bukan untuk menjatuhkan dan merusak moral mereka. Bahkan ketika kita merasa kita punya kekurangan dan kesalahan, Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk memahami kesalahan dan tidak mengulanginya di lain waktu. Diingetin ya didengerin, kata orang mah. Tapi coba baca lagi sirah nabawiyah, cara ngingetinnya itu TANPA JUDGE, dan berhubungan tentang hal yang sudah jelas yang benar itu yang seperti apa. Kadang aku nemu orang yang ngingetin aku untuk nggak boleh baca Al-Quran di samping orang yang shalat, padahal suaranya aja nggak keluar dari mulut.


Di akhir cerita, terkadang kita ini pengen jadi yang lebih baik daripada Rasulullah SAW. Kok bisa? Rasulullah SAW nggak pernah ngungkit kesalahan dan kekurangan orang. Kalopun salah, beliau menegur dengan lembut. Masa kita melebihi apa yang dulu dilakukan Rasulullah SAW, padahal secara akhlaq saja kita nggak akan setara dengan Rasulullah SAW dan sahabatnya? Atau jangan-jangan, kita ini cuman pengen terlihat baik di mata orang? Atau jangan-jangan kita ini lagi bawa "misi" seseorang agar kita jadi yang terbaik?


Inget, hewan dan tumbuhan memahami kekurangannya sehingga mereka paham posisi mereka di ekosistem seperti apa. Inget, manusia juga bisa salah, walaupun dia perfeksionis. Jadilah manusia seutuhnya dan memanusiakan manusia.

Rabu, 04 November 2020

Words Can Hurt Feeling

 "Words can hurt feeling."


Mungkin kita sendiri nggak sadar bahwa kata-kata itu dapat menyakiti perasaan orang lain. Gimana mau sadar, wong kita aja mikirnya, "alah paling nggak nyakitin lah, masa gini doang nyakitin." Entah kita mikirnya tentang kejujuran atau kebenaran, padahal nggak semua orang bisa menerima apa yang kita katakan.


Hayo bener nggak?


Tapi sekarang pake sudut pandang orang lain, emang kita tau sejauh apa? Misalnya aja ada temen lagi depresi terus pengen bunuh diri. Yang kita tau paling kan sejauh "bunuh diri itu dosa". Mana mungkin kita tau masalah pribadinya atau masalah dengan orang lain. Belum tentu juga dia mau cerita masalahnya. Pikirannya juga banyak, entah dia nggak mau, nggak trusted (udah kek aplikasi software wkwkwk), takut cuman bagi cerita aja, atau lain-lain.


Takutnya tiba-tiba kita asal claim aja masalahnya terus yodah kita ngasal ngasih sarannya.


Words can hurt feeling. Kata-kata dapat melukai perasaan.


Kasus yang sekarang terjadi adalah contoh nyata kalimat di atas. Kasus mana? Yang itu tuh sampe seluruh dunia mengecam. Banyak orang nggak sadar bahwa kasus yang terjadi itu bukan karena dibebaskannya berbicara di depan publik; tetapi karena tidak paham kata-katanya dapat melukai perasaan orang lain. Lah wong obrolan nggak bebas (re: dibatasi) aja dapat melukai perasaan (contohnya tuh ngomong nikah kapan, punya anak berapa, dll), apalagi yang dibebasin sebebas-bebasnya. Lah sekarang dasarnya aja (sebagian orang) nggak tau, yo pantes lah reaksinya beda-beda. Marah yo wajar, nggak marah yo wajar. Eh malah gelut sendiri dan mengatakan ini kasus sensitif.


La wong dasarnya aja nggak tau.

Words can hurt feeling. Kata-kata dapat melukai perasaan.


Reaksi orang berbeda-beda itu wajar. Tapi pas nggak tau dasarnya, akibatnya dasar teori orang-orang menjadi reaksi tadi. Misalnya kalo kita dibilang "b*j*ng*n" sama orang yang nggak dikenal, terus kita marah. Yo wis to wajar kan? Hla wong tau-tau kok dibilang gituan. Nek nggak marah yo wajar to? Hla wong nggak kenal juga, anggep aja nggak perlu dipikirin juga. Tapi karena nggak ngerti dasar tadi, yowis akhirnya terpatri di otak itu


"nek kita dihina, kita harus (reaksi)."


Harusnya yang bener itu,


"Words can hurt feeling. Kata-kata dapat melukai perasaan. Menghina adalah contoh kata-kata yang melukai perasaan. Jadi (reaksi; tidak hanya marah/diam, tetapi juga bahan pembelajaran)."


Penutup, sedih nggak sih harusnya kita bisa satu suara untuk mengecam perbuatan apapun yang dapat melukai perasaan, eh malah di tubuh sendiri masih aja saling menjatuhkan karena perbedaan reaksi. Yo jelas lah dasarnya aja nggak paham, gimana mau sejalan. Kalo dasarnya udah ngerti, pasti kita udah sefrekuensi ngomonginnya, "mengecam perbuatan apapun yang dapat melukai perasaan". Yah mau gimana lagi, gampang dilupain. Dapet pembelajaran nggak, lepas emosi iya.


Mbok hayo to sekarang coba kita pilah dan pilih mana yang dapat melukai orang, mana yang nggak. Kita kadang nggak tau bisa jadi yang kita omongin dapat melukai perasaan. Tapi semua ini dapat dikomunikasikan kok. Cuman harusnya tau dong manner-nya seperti apa, basic ethics-nya seperti apa, dll. Tapi gimana lagi ya, mosok rekomendasi pos/tweet aja isinya emosi dulu baru dasarnya. Meh sampe aku nikahin 4 istri juga nggak dibaca to wkwkwk.


Yowis ya bye-bye~


#KomunikasiHarmoni

#SupportInitiator

#OurStruggle

Sabtu, 09 Mei 2020

Ketika Rindu Temporer Menjadi Rindu Abadi (Tribute to Didi Kempot)

Nunut ngiyup, kula nunut ngiyup.
Udan lali ora nggawa payung.
Teng tritis kulo nggih purun
Teng emper kulo nggih purun
Sak derenge matur nuwun
- Nunut Ngiyup, Didi Kempot

Mungkin aku kaget bukan main ketika pagi ini salah satu rekan kerja berkata bahwa (alm.) Didi Kempot (aku panggil beliau Pakde Didi) meninggal. Mengapa? Pertama, umur beliau lebih muda daripada bapak saya (nggak penting ya wkwk). Kedua, beliau sering diisukan dengan faktor usia sehingga kabar seperti itu selalu dihempas ke permukaan layaknya isu kematian Jackie Chan. Ketiga, posisi beliau yang sampai berita tersebut muncul tidak pernah aku ketahui; entah di Solo atau di Jakarta atau mungkin manggung di suatu tempat. Cukup kali ya, males nanti bacanya wkwk. Pakde Didi akhirnya benar-benar dikabarkan meninggalkan para penggemarnya sekaligus pertunjukan di dunianya pagi ini (saat tulisan ini ditulis, 5 Mei 2020). Sontak tangisan sobat ambyar (nama penggemar fanatik garis keras beliau) memenuhi media sosial, hingga banyak orang yang turut mengucapkan belasungkawa, termasuk beberapa gamers (yang saya lihat tidak terlalu tahu tentang beliau). Bahkan, pemakaman almarhum diiringi oleh beberapa mobil hingga kedatangan Pak Rudy selaku walikota Surakarta dan Pak Ganjar selaku gubernur Jawa Tengah. Mungkin kalo di Dota, level beliau bukan lagi "Legend" atau legenda; tetapi Ancient bahkan Immortal: tingkat paripurna permusikan, alias kalo aku nyebutnya "seniman bukan kaleng-kaleng". Tidak hanya itu, satu hal yang bikin aku (dan mungkin orang-orang yang mengaguminya) terharu sekaligus sedih adalah "rindu yang awalnya temporer akhirnya menjadi abadi" dan semuanya lewat lagu beliau.

Secara singkat aku ini bukan "Kempoters" (penggemar garis keras tapi generasi tua ini wkwk) atau "Sobat Ambyar". Aku tidak suka fanatik berlebihan :). Aku tahu lagu beliau sejak kecil, mungkin antara TK sampai SD. Lagu yang paling mengena saat itu adalah "Nunut Ngiyup" selain "Stasiun Balapan" dan "Kuncung". Selain lagu ini asik, ternyata lagu ini penuh makna (bagiku wkwk). Oke nanti dijelaskan di bawah. Singkat cerita video klip paling mengena bagiku adalah video klip "Sewu Kutha". Katanya sih bikinnya pas di Tawangmangu. Karena lagu ini, ada satu mimpi yang selalu aku ingat sampai sekarang, yaitu jalan-jalan ke Tawangmangu hingga adanya stasiun kereta api (efek dari video klip "Stasiun Balapan") di tempat tersebut, meskipun faktanya tidak ada (dan tidak pernah ada). Akhirnya beberapa lagu beliau mengisi hampir sebagian besar playlist-ku ketika mendengarkan lagu. Hal ini terus aku bawa hingga SMA sampai kuliah meskipun waktu kuliah aku jarang mendengarkan karena tergerus dengan suasana di Bandung kala itu. Sebelum beliau tutup usia, aku sempat mendengarkan beberapa lagu baru beliau seperti "Banyu Langit", "Pantai Klayar", hingga "Ambyar", "Tatu", dan lagu terakhir: "Aja Mudik" bersama walikota Surakarta, Pak Rudy.

Kata bapak, aku pernah bertemu dengan beliau saat makan di Solo Grand Mall. Saat itu aku sangat takut (karena belum pernah ketemu beliau dan aku kan orangnya lupa sama wajah orang wkwk). Maklum, aku masih kelas 2-3 SD (lupa kapannya wkwk). Saat itu aku bertemu dengan grup beliau (semua orang yang ada di video klip "Kuncung", namanya siapa takut salah sebut). Rumah beliau dekat dengan rumahku, meskipun cuman beda sekitar 3 kelurahan saja ke Barat wkwk. Harusnya aku bisa bertemu dengan beliau wkwk. Apa daya saat ada kesempatan bertemu saat beliau diperkenalkan kembali oleh mas Gofar Hilman aku nggak pernah bisa datang. Sekalinya ada kesempatan, malah penuh sesak nggak seperti zaman dulu. Alhasil ketika beliau manggung di Benteng Vastenburg akhir tahun lalu silam, aku (dan kakakku bersama temannya) hanya bisa mendengar beliau menyanyi di luar benteng. Masih banyak lagi kesempatan-kesempatan bisa bertemu beliau ketika manggung, tetapi sampai beliau pergi jadi nggak kesampaian. Huhu...

Nah sekarang, apa yang aku kagumi dari beliau?

Beliau ini ciri khas orang Solo asli, menurut sebagian besar orang yang lahir di Solo yang aku temui, termasuk generasi tua. Bagiku, beliau ini mirip dengan bapakku dari segi semuanya kecuali interest. Bapak selalu mengajariku hidup sederhana, selalu baik kepada orang lain, hingga memanusiakan manusia. Tidak jauh beda dengan Pakde Didi. Beliau ini hidup sederhana (aku jarang melihat beliau naik mobil nyetir sendiri atau disupirin sama supir pribadi). Bahkan setiap kali beliau bercerita tentang selalu datang naik sepeda di saat zaman itu beliau bisa beli motor, aku selalu berpikir dan bertanya, "mengapa beliau setidaknya beli motor dulu selagi nggak ada job manggung". Hal ini yang membuatku semakin paham dengan karakter beliau. Terlebih lagi beliau berhasil mengadakan konser amal hingga mengumpulkan donasi mencapai 9 miliar! Itu kalo dibelikan masker hasil timbunan, bisa abis semua timbunannya. Selain itu, aku lihat beliau ini orang yang jenaka. Jokes beliau ini sekelas jokes anak muda dan generasi 80-an pada umumnya dan umurnya. Ciri khas inilah yang membuat kita lebih mengenal seorang pakde Didi yang cukup humble. Menurut penuturan orang-orang, beliau inilah salah satu contoh orang "ngajeni" dengan bahasa kramanya kepada orang yang tidak dikenal. Hal ini sudah hilang tergerus oleh zaman karena zaman sekarang membenci strata sosial.

Namun, satu hal yang aku suka dari beliau: nguri-uri budaya. Beliau memperkenalkan lagu jawa dengan genre dangdut campursari kepada khalayak publik. Tidak hanya orang Jawa yang menyukai lagu beliau, tetapi juga beberapa daerah lainnya. Hal ini bisa dibuktikan dari beberapa temen Sundaku yang menyukai lagu beliau dan saat "ngobam" bersama mas Gofar, ada seorang mahasiswa Lampung yang kuliah di Solo menggemari lagu beliau. Mungkin saja aku bisa bilang beliau bisa menjadi orang terakhir penerus genre campursari. But I don't know the fact.

Cukup cerita beliau. Sekarang seperti inilah aku memaknai lagu-lagu beliau. Mungkin pemaknaan setiap orang berbeda, jadi jangan disatukan tafsirnya.

Ku buka pemaknaan lagu beliau lewat lagu "Nunut Ngiyup" di awal tulisan ini. Secara gamblang, lagu ini memang mengisahkan tentang seseorang yang terjebak lebatnya hujan di rumah seseorang dan dia memohon izin kepada pemilik rumah untuk berhenti dan beristirahat. Di sini kita diajarkan sebuah adab bahwa kita wajib meminta izin kepada pemilik jika kita menggunakan barang milik orang lain. Adab ini ternyata sudah mulai luntur di masyarakat, apalagi pandemi COVID-19. Banyak orang yang menggunakan fasilitas orang lain tanpa memberitahu kepada pemiliknya kapan dan barang apa yang dipakai. Nah sekarang dari sisiku. Kita hidup di dunia ini penuh dengan masalah (hujan). Terkadang kita menghadapi masalah yang cukup besar, namun kita tidak tahu solusi apa yang kita bisa berikan (payung). Pastinya kita mencari cara untuk menyelesaikan masalah tersebut, meskipun kita tidak tahu bagaimana caranya. Kalo orang baru jalan misalnya, pastinya semisal dia tidak membawa jas hujan ya dia mampir ke suatu tempat untuk berteduh. Unggah-ungguhnya, kita meminta izin kepada pemilik tempat untuk berhenti meneduh. Tapi inget juga kalo belum tentu kita diberi jas hujan atau payung di tempat kita berteduh. Maka dari itulah kita cukup berhenti sejenak dan beristirahat. Kadang kita punya masalah yang serius dan besar, tetapi kita tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Kadang kita butuh tempat untuk bercerita dan meluapkan emosi (nggak cuman marah doang ya wkwk). Kadang juga tempat kita bercerita tidak mampu memberikan solusi. Terus? Cukuplah kita berhenti sejenak dan bercerita. Let it go istilahnya dan nanti pasti masalah akan berlalu.

Salah satu lagu pakde Didi yang paling aku suka adalah "Sewu Kutha". Lagu ini terinspirasi dari (alm) Arie Wibowo yang berjudul "Walau Sekejap" karena pakde Didi suka dengan lagu tersebut. Kemudian beliau menerjemahkan lagu "Walau Sekejap" menjadi lagu berbahasa Jawa dan dipersembahkan untuk Arie Wibowo. Mengapa lagu ini menjadi favoritku? Karena lagu ini memang menggambarkan bagaimana cara aku mencari jodohku (wkwk) di dunia ini. Bedanya, orangnya belum ketauan wkwk. "Sewu kutha wis tak liwati, sewu ati tak takoni"; ribuan kota sudah kulalui dan ribuan hati sudah kucicipi. Ternyata, mereka semuanya tidak mengerti keberadaan jodohku saat. Di sinilah aku terus menunggunya meskipun bertahun-tahun aku mencari dan menunggunya. Kembali lagi, namanya juga pemaknaan, jadi bisa berbeda-beda.

Oke aku ambil contoh lagu terakhir yaitu Suket Teki dan Ban Serep. Dua lagu ini aku bisa bilang cukup unik, karena hubungan cinta bisa diumpamakan sebuah rumput teki dan sebuah ban cadangan. Tidak hanya itu, dua lagu ini mengajarkan kepada kita sebuah nilai sosial yang bagus, bisa dibilang cukup indah. "Wong salah ora gelem ngaku salah, suwe-suwe sapa wonge sing betah," orang bersalah namun tidak mengaku bersalah, lama-lama siapa yang betah. Itu fakta, karena membangun hubungan haruslah bersifat profesional dan saling memahami satu sama lain. Sekali ada ketidaksetimbangan, maka akan terus terjadi ketidaksetimbangan. Kemudian satu kalimat kunci dari Ban Serep, "janjimu kaya panganan: esuk soto sore rendang. Katresnan dudu onderdil, nggumun gampang ditempil." Janjimu seperti makanan, paginya soto sorenya rendang (maknanya adalah janji enak yang berbeda). Kemudian ditutup dengan cinta bukanlah sebuah onderdil yang gampang diganti atau disingkirkan. Noh, apa nggak bikin ambyar, apalagi orang-orang yang masih dalam tahap pacaran. Jarang ada pasangan yang diduakan, apalagi masalah kepercayaan. Bahkan Tuhan saja tidak mau diduakan. Masa kamu mau menduakan seseorang hanya karena takut hubunganmu nggak jalan dengan salah satunya? Kan lucu.

Oke daripada aku makin ngawur bikin maknanya (karena dari awal udah aku tulis versiku wkwk), sekarang aku mau bikin penutupnya. Di sinilah titik puncak "sobat ambyar" atau "kempoters" merindukan pakde Didi Kempot. Semoga Allah memberikan beliau tempat yang terbaik, karena pakde Didi menurut saya sudah memberikan teladan yang cukup baik. Beliau pernah melakukan kesalahan, namun beliau mau memperbaiki kesalahan tersebut sehingga detik ini beliau menjadi legenda bagi orang-orang sekitar. Bahkan walikota dan gubernur mau datang ke pemakaman beliau. Tidak hanya itu sebenarnya, beliau memberikan contoh perjuangan yang terbaik. Dalam konsep Islam pun tidak ada kata menyerah sampai memang menurut hati manusia, "oke ini hanya Allah yang mampu mengubahnya". Beliau ditolak berkali-kali di banyak studio rekaman, namun akhirnya beliau sering diundang ke Suriname (karena mayoritas penduduknya adalah orang Jawa) dan beberapa kesempatan ke Belanda. Beliau juga mengajarkan untuk beramal (bukti ini ada pada karya-karya beliau yang di-cover sampai diperkenalkan oleh orang lain tanpa izin namun beliau tidak memarahinya) dan rendah hati. Mengapa kita harus menanyakan agama beliau kalau menjadi manusia tidak harus menjadi Islam?

Penutup, kita ingat bahwa sang maestro menciptakan semua lagunya bagi sobat-sobat yang ambyar karena galau dengan pacarnya. Sang maestro menciptakan lagu ini karena masa lalu beliau yang ternyata setiap momennya tercakup di dalam setiap lagu-lagunya. Bayangin aja nungguin pacar di Terminal Tirtonadi, Tanjung Mas, sampai Stasiun Balapan; kurang kerad apasi Pakde Didi ini? Setiap tumbuhan dan hewan pun beliau jadikan sebuah perumpamaan dalam menggambarkan kegalauannya. Rumput teki buat gambarin janji palsu seseorang, jambu alas buat gambarin ngodein gebetan, sampe paling imbanya ban serep buat gambarin diduain sama orang. Kurang bagus apa coba.

Sang maestro mengajarkan kita untuk menangisi keadaan dengan berjoget dan merayakannya dengan senang dan ceria, sekarang beliau mengajarkan kita untuk menikmati kerinduan abadi. Awalnya sang maestro mencontohkan bagaimana beliau mengungkapkan rindu kepada sang kekasih kepada kita, akhirnya sang maestro memaksa kita untuk mengungkapkan rindu yang takkan berbalas kepadanya. Lirik Stasiun Balapan karya sang maestro yang awalnya untuk kekasihnya sekarang pun menjadi ucapan perpisahan sobat ambyar kepada sang maestro, "Daa... Dada maestro... Daa... Selamat Jalan...". Sambung lagi Banyu Langit yang "janjine lungane ora nganti suwe-suwe; pamit esuk lungane mulih ora nganti sore" menjadi pamit lunga ora ngerti mulihe kapan. Justru sekarang ditutup dengan Layang Kangen bahwa sang maestro sudah memiliki sayap (swiwi) dan pulang (ke akhirat) menemui sang kekasih (andaikata sudah di surga).

Selamat jalan, sang Maestro!
Terima kasih sudah memberikan banyak pelajaran hidup kepada kami semuanya, terkhusus aku dan sekeluarga karena dari kecil hidup di alunan lagu Jawa dan keroncong dangdut campursarimu. Kali ini sematan "rindu temporer" telah berubah menjadi "rindu abadi".

Jumat, 10 April 2020

Nggak Nyamperin Masjid Karena Corona, Yakin?

Aku dedikasikan tulisan ini untuk salah satu kakak tingkatku Kang Giffari Alfarizy karena di saat aku pengen nulis ini, beliau sudah menulis tentang keluh kesah yang sama. Tujuannya sama lagi. Jadi biar nggak dibilang plagiat, aku berterima kasih dulu. Mungkin saja beberapa orang yang membaca tulisan ini juga berpendapat hal yang sama karena hipotesaku orang-orang yang menulis ini belum tentu orang yang punya latar belakang agama yang luas dan bermacam-macam. Mungkin saja dia memang memiliki wawasan yang luas, namun ternyata ada "kepentingan" dibalik kata-katanya. Maka dari itu aku mengajak para pembaca untuk mendengungkan hal yang seharusnya menjadi benar di dunia ini.

Baiklah aku mulai.

=======================================================

Beberapa waktu yang lalu (tepatnya sehari sebelum tulisan ini terbit), saya menemukan satu untaian kata yang saya bisa katakan "menyesatkan", padahal berbau agama dan itu harusnya benar. Penjelasan akan saya jabarkan di bawah tanpa mengambil teori. Mengapa? Teorinya nanti bisa pembaca dapatkan dengan mencarinya di mesin pencari di internet. Tulisannya seperti apa?

"Pergi ke mall saja berani; pergi ke pasar saja berani; pergi ke mana-mana saja berani; tapi pergi ke masjid saja takut corona."

Renungan bukan? Loh harusnya kita (orang muslim) berani pergi ke masjid dan takut pergi ke tempat lainnya, dengan alasan apapun. Mengapa ini terbalik? Atau jangan-jangan kita yang disinggung oleh orang yang menulis tulisan tersebut adalah orang-orang yang takut sama Virus Corona dibandingkan Allah?

-----------------------------------------------------------------------------------------

Apakah itu virus Corona?

Virus Corona ini adalah sebuah virus baru yang bermutasi, muncul mulai tahun 2019 akhir hingga sampai saat tulisan ini terbit, vaksin belum muncul dan masih menjadi pandemi di dunia. Jika pembaca ingin mengetahui lebih lanjut, sila pembaca mencari tahu di mesin pencari. Namun, saya tidak ingin membahas definisi atau teori dasarnya. Saya ingin menuliskan beberapa hal yang penting.

Virus Corona ini bukan tipe virus buatan. Virus ini mungkin bisa dibuat, namun konsekuensinya adalah pembuatnya pasti juga terkena virusnya. Mungkin loh ya. Namun banyak orang mengatakan bahwa virus ini sudah bermutasi. Mengerikan? Justru yang mengerikan bukanlah hal tersebut. Virus ini ternyata mampu menjangkit lebih dari 1 juta orang dalam kurun waktu 4 bulan 10 hari sejak kasus pertama muncul (belum tentu orang pertama yang terjangkit). Kalau pembaca hitung, maka terdapat kira-kira 7.693 orang per hari, atau 321 orang per jam, atau 6 orang tiap menitnya. Ini masih hitungan kasar, karena menurut teori, kemungkinan akan mengikuti distribusi normal, which is akan mencapai puncaknya di suatu titik hingga kemudian turun (tren mulai menurun). Oke seperti yang saya sampaikan, teori bisa pembaca cari di mesin pencari. Namun coba interpretasikan angka 6 orang tiap menit. Rata-rata satu keluarga terdiri dari 4 orang. Berarti 6 orang tiap menit bisa dikatakan 1 keluarga ditambah 2 orang yang dekat dengan keluarga tersebut. Justru inilah mengapa kecepatan penyebarannya cukup tinggi.

Apa yang dikhawatirkan oleh sebagian besar penduduk di dunia? Obatnya belum ketemu, tetapi efeknya cukup mengerikan. Beberapa penelitian menyebutkan salah satu dampak terburuknya adalah berkurangnya fungsi pernafasan hingga 20%. Bahkan kematian terbesar dialami oleh orang-orang yang lanjut usia dan memiliki penyakit komplikasi terutama penyakit pernafasan.

Shalat di Masjid itu Wajib, Tau!

Kalo aku disuruh marketing atau kampanye shalat di masjid adalah hal yang wajib, sorry to say banget aku nggak mau. Bukannya karena aku nggak suka atau liberalis, tapi aku akan paparkan banyak alasannya.

Pertama, janji orang yang shalat di masjid itu 27 derajat lebih tinggi daripada shalat di rumah (entah kali lipat atau cuman lebih tinggi). Jadi misalkan kita shalat di rumah dinilai 20, maka dengan kualitas shalat yang sama tapi kita melakukannya di masjid (dan mengikuti imam tentunya) akan mendapatkan 27 derajat lebih tinggi, yaitu mungkin 540 atau 47 pahala. Andaikan kita berbuat keburukan dengan nilai dosa 1 saja, maka kita butuh 540 dosa atau 47 dosa untuk menghapus 1 pahala karena shalat di masjid. Ini yang selama ini aku pegang.

Kedua, beberapa hadits mengatakan bahwa Rasul tidak menyukai (bahkan sampai membakar rumah) laki-laki yang tidak datang ke masjid. Oke pemahamanku bukan ke tingkat dhaif atau shahih-nya hadits ini, tetapi aku pakai pemahamanku berdasarkan dimensi ruang dan waktu. Kemungkinan besar hadits ini muncul setelah Fathul Mekkah, atau mungkin saja saat di Madinah namun dalam suatu daerah (kalo kita nyebutnya kelurahan atau kecamatan). Mengapa? Andai Rasul benar melakukannya, maka Rasul hanya bisa menandai rumah kaum muslimin pada saat yang aku sebutkan (kecuali jika Rasul memang hafal rumah kaum muslimin saat itu). Namun, titik beratku ada pada jumlah kaum muslimin yang belum mencapai ribuan. Bahkan menurut kisah, masjid Nabawi dulu hanya sebesar rumah tipe 36. Berarti jemaah yang datang sekitar 100-200 orang. Ke mana sisanya? Atau memang zaman itu hanya segitu? Kalo kita bicara Fathul Mekkah, mungkin saja kita akan menduga shalat didirikan di masjid Haram (inget zaman dulu hanya 1 lantai saja). Menurut perkiraanku dengan kondisi di atas, kemungkinan jamaah yang datang sekitar 500-1.000 orang. Belum lagi kapan Rasul melakukannya dan seberapa sering. Andai Rasul terus melakukannya, berarti Rasul jarang mendirikan shalat berjamaah, atau memang Allah memberi mukjizat kepada Rasul untuk mengetahui siapa yang tidak datang ke masjid. Wallahu a'lam. Namun intinya bukan mewajibkan shalat di masjid, melainkan penekanan bahwa shalat di masjid secara berjamaah itu lebih baik dan sangat dianjurkan. Jadi sekadar himbauan.

Nah ini kan alasan yang biasa dipakai untuk mewajibkan pergi ke masjid. Mengapa aku nggak mau? Alasannya adalah banyak hal yang disembunyikan dari kampanye (atau propaganda sebut saja deh haha). Pertama apakah wajib bagi seluruh laki-laki? Ternyata tidak (salah satu contohnya adalah ketika aku kena cacar air). Propaganda mengatakan hal tersebut wajib, padahal seharusnya "sangat dianjurkan dan disarankan jika tidak ada udzur". Hal tersebut berbeda dari segi makna. Kedua, akibatnya apa? Anak-anak masuk masjid tanpa pengawasan. Aku mengalami hal seperti ini sejak aku mencoba shalat di masjid perumahan. Akibatnya apa mengapa aku khawatir tentang hal ini? Setelah selesai, mereka langsung saja keluar. Bener ini! Belum lagi ngobrol di teras masjid (belum keluar masjid ini). Okelah kalo ngobrolin tentang mainan sih nggak masalah. Tapi ngobrolinnya tentang "eh kamu tadi batal shalatnya loh...". Pertama, oke kalo itu tujuannya mengingatkan. Tapi mereka masih kecil, nggak tahu segalanya tentang batalnya shalat. Kok udah jadi ulama ya? Atau jadi Tuhan deh (soalnya aku tau yang ngomong itu juga batal shalatnya, eh salah harusnya tidak sempurna shalatnya)? Kedua, kalo ngajarin anak, oke deh aku setuju. Tapi coba tadi aku bilang apa: nggak ada yang mendampingi. Oke kalo misalkan untuk orang tua? Banyak sekali orang-orang yang shalat, namun tidak membersihkan dirinya dan tidak memakai wewangian. Berapa banyak? Aku sering. Bahkan pernah aku menahan nafas dari awal shalat sampai salam. Padahal hal tersebut dibilang sunah. Lah kok lucu? Bukannya shalat itu adabnya tidak boleh mengganggu orang lain juga? Pastinya ini juga salahnya mereka-mereka, bukan? Tetapi penyampaiannya seperti apa?

Maka dari itu mengapa aku bilang lebih baik pendakwah mengatakan "sangat dianjurkan dan disarankan jika tidak ada udzur" dibandingkan wajib. Ketika kita bilang "kamu ada udzur", kita bisa berikan solusinya. Coba kalo kita bilang "wajib". Maka kita hanya menyuruh mereka datang instead of melihat kondisinya dia. Di sinilah muncul glorifikasi dari orang-orang yang punya udzur untuk orang-orang tertentu (termasuk propaganda tadi ya wkwk). Tujuannya? Mengejek secara halus, alias menyindir. Belum lagi beberapa masjid hanya khusus pengikut tertentu. Ini terjadi, bahkan parahnya sampai mengepel jejak kaki orang-orang yang bukan menjadi pengikutnya. Parah nggak sih, ngajakin ke masjid tapi masjid saja dikhususkan bagi orang-orang tertentu? Belum lagi masalah tidak merangkulnya pengurus masjid dengan pendatang (ceritanya ini ada di autobiografiku). Jadi sebenarnya kita ini "memaksa" orang atau sebenarnya serakah dengan surga-Nya? Pastinya tidak semua masjid seperti itu. Namun, menurutku instead of mengajak orang ke masjid, mengapa kita tidak membuat masjid itu tempat dikenang? Atau cuman mau berada di bawah hukum yang nas tanpa memperbaiki diri sendiri?

Pastinya ada beberapa hadits yang secara eksplisit menuliskan kewajiban seorang muslimin pergi ke masjid (terutama laki-laki). Asumsikan saja kita wajib shalat di masjid dan tidak mengikuti apa yang aku katakan. Siapa tau benar.

Takut ke Masjid karena Corona, Ironi?

Menggunakan asumsi kita wajib shalat di masjid, maka setiap orang harus ke masjid. Kita berandai-andai andaikata tidak ada satupun muslimin yang tidak pergi ke masjid. Jadi mengapa takut Corona kalo sebenarnya kita bisa ke masjid?

Mengapa pasar tidak mendengungkan hal yang sama? Orang ke pasar itu cari bahan makanan atau minuman. Selanjutnya tidak ada ikatan hukum tentang prosedur standar ke pasar (ke pasar harus ngapain), sehingga orang bebas pergi ke pasar. Karena tidak ada ikatan hukum juga, maka itu hak mereka mau ke pasar atau nggak. Selanjutnya obyek yang kita cari di pasar tidak selalu hanya tersedia di pasar. Jadi kita bisa beli di tempat lain seperti mall, toko, atau tempat lain. Jika malas? Kita bisa pergi ke rumah makan dan langsung makan di sana. Pastinya orang memahami dirinya jika dia sakit yang parah pasti tidak akan ke sana. Mungkin saja beberapa orang menitipkan belanjaannya kepada orang lain. Mengapa mereka berani ke pasar?

Oke misalnya di suatu kota berpenduduk 10.000 muslim (tanpa ada pemeluk agama lainnya) terdapat 5 masjid, 5 jenis pasar sembako (entah itu berbentuk toko atau pasar), 5 jenis mall, 5 jenis tempat wisata, dan 5 jenis restoran. Diantara penduduk tersebut, 50 orang disabilitas, 100 orang berusia lanjut, dan 100 orang memiliki penyakit (anggap saja Corona). Kita asumsikan tidak ada pembagian gender supaya lebih mudah.

Cerita pertama nih kita wajib pergi ke masjid tepat waktu (sesuai waktu shalat). Kita tidak dianjurkan ke tempat seperti mall, pasar, atau tempat yang lain dan tidak ada ikatan waktu. Asumsikan juga pendistribusian orang-orang khusus tadi secara merata.

Pertanyaan pertama, berapa peluang kita bertemu orang yang memiliki penyakit (anggap saja Corona)?

Jika kita bertemu mereka di masjid (asumsinya distribusi merata), maka dari 10.000 muslim akan ada 2.000 muslim dalam satu masjid dalam satu waktu, terdiri dari 10 orang disabilitas, 20 orang berusia lanjut, dan 20 orang memiliki penyakit. Berarti peluang kita bertemu orang berpenyakit di masjid adalah 20/2.000; atau 1% (0,01). Kalau di tempat lain? Karena mengikuti dimensi waktu, maka kita belum tentu mendapatkan peluang 1% (0,01). Pastinya mereka pergi ke tempat selain masjid mungkin 1 sampai 2 kali sehari (tidak seperti masjid yang bisa 5 kali sehari). Anggap saja mengikuti distribusi normal dengan puncak keramaian jam 9 dan jam 5 sore dengan asumsi distribusi merata dengan puncaknya misalkan saja 1.000 muslim (setengah dari masing-masing kategori). Maka peluang kita akan bertemu dengan orang berpenyakit sebanyak 4/1.000; atau 0,4% (0,004). Kecil bukan? Belum lagi kita kaitkan dengan dimensi ruang dimana luas masjid anggap saja 200 meter persegi. Mau pasar dengan luas berapapun, dia terikat dengan dimensi waktu. Justru itulah yang membuat peluangnya makin kecil.

Jika peluang bertemu orang berpenyakit semakin kecil, maka semakin orang tidak takut tertular penyakit.

Jadi benar bahwa orang-orang lebih takut pergi ke masjid dibandingkan pergi ke tempat umum seperti pasar, mall, dan lain-lain. Ini hanya karena masalah dimensi waktu dan ruang. Tidak semua orang berpenyakit akan mau pergi ke tempat umum karena mungkin saja mereka lebih memilih di rumah dan meminta tolong orang lain dibandingkan datang langsung. Apalagi sekarang ada ojek online yang membuat mereka lebih mudah memesan barang. Kalau masjid? Kita bertanggung jawab atas iman kita sendiri, harus datang pada waktunya, dan belum lagi aturan (aku lebih suka menyebutnya propaganda) yang mengharuskan kita melakukan ibadah di tempat ibadah. Otomatis dengan mindset tersebut kita yang misalnya membawa penyakit dan mudah menular pasti akan pergi ke masjid.

Kesimpulannya? Orang-orang tersebut tidak menyindir, tetapi mengatakan fakta yang memang terjadi. Mungkin saja penafsiran orang mengatakan bahwa hal tersebut ironi. Padahal faktanya adalah pastinya salah satu penyampaiannya tidak benar, mengakibatkan hal tersebut memiliki sifat ambigu. Akibatnya? Pesan tidak tersampaikan dan tidak mendapatkan intinya.

Pendakwah itu Mengajak, bukan Menyindir atau Memarahi

Salah satu komponen dalam komunikasi adalah intonasi. Intonasi mungkin mewakili perasaan seseorang yang mengerucut pada senang atau tidaknya dia kepada orang lain. Padahal inti dari sebuah komunikasi adalah menyampaikan pesan, bukan tentang bagus tidaknya menyampaikan pesan. Namun, nggak semua orang fokus tentang penyampaiannya. Apalagi kalo udah jadi selebgram atau influencer; mungkin saja mereka menekankan suatu hal yang membuat orang lain ingin mengikuti dia atau mendapatkan informasi darinya. Oke aku serahkan anak-anak ilmu komunikasi saja deh tentang hal ini karena mereka belajar bagaimana mereka di-notice sama orang lain. Wkwk

Menurutku, pendakwah itu mengajak; bukan menyindir atau memarahi. Mengapa? Kita bukan setingkat nabi (Rasulullah SAW). Pastinya kita nggak bisa menetapkan hukum sekuat beliau. Lantas untuk apa kita mau mendengarkan orang yang tidak setingkat nabi? Maka dari itulah muncul para ulama. Lucunya, para ulama sendiri juga suka memberikan keputusan yang tidak sejalan. Misalnya riba di bank. Beberapa golongan ulama menganggap hal tersebut diperbolehkan, namun ada juga yang melarang. Kalo udah di tingkat mengikuti ulama masing-masing sebenarnya nggak akan ada masalah karena setiap orang punya pendapat masing-masing. Namun, lihatlah pengikut mereka. Mengapa mereka jadi penegak hukum bagi orang lain? Pasti tidak semuanya loh ya. Jadi mengapa kita menyalahkan orang kalo kita hanya punya kekuatan untuk mengajak orang?

Sekarang kalo udah gini, kita mau gimana? Nggak semua pendengar atau pengikutnya memiliki ilmu yang sama. Ada juga yang baru aja belajar adabnya, ada yang belum belajar adab, ada juga baru hijrah (jadi adabnya mengikuti pendapat sebelum hijrah). Belum lagi kita ngobrolin tentang karakter orang. Menurutku lebih baik memperbaiki akhlak daripada memperbaiki hal-hal yang ujung-ujungnya ganjaran (entah dosa atau pahala). Itu urusan orang mau dapet pahala atau nggak, mau dapet dosa atau nggak, karena nanti perhitungannya urusan Allah. Mengapa kajian-kajian yang ada menyimpulkan sampai ke masuk neraka atau surga? Mohon maaf, perhitungannya nggak semudah itu. Coba baca lagi ayat di Al-Quran, bahwa dijelaskan setiap perbuatan sebiji zarah pun dapet balasannya. Ini bukan soal hutang dan punya uang, namun seberapa besar dosa atau pahala kita. Perhitungannya juga kompleks, karena niat juga menjadi hitungan instead of melakukan sesuatu hal saja. Maka dari itu aku bukan orang yang menyuruh orang lain shalat di masjid tanpa ada alasannya. Makmurkan masjid jika kamu tidak memiliki suatu hal yang membuat kamu atau orang lain tidak nyaman. Justru dengan tidak membuat orang lain terganggu atau tidak mengganggu kekhusyukan mereka, kamu mendapatkan ganjaran lebih banyak daripada hanya ingin mendapatkan 27 derajat lebih tinggi. Daripada nanti pengen boker tapi ditahan sampe shalat selesai eh tau-taunya sakit di anus.

Kesimpulan?

1. "Takut ke masjid karena Corona" adalah hal yang wajar karena peluang tertular virus Corona di masjid lebih besar daripada di tempat lainnya. Hal ini disebabkan karena orang-orang harus pergi ke masjid (karena aturan, atau aku sebut propaganda) di waktu yang sudah ditentukan dan di tempat yang kecil. Justru hal ini bukan sindiran atau ironi mengingat hal ini bukanlah perbandingan yang sepadan.

2. Himbauan pemerintah (termasuk Kementrian Agama dan MUI) untuk tidak menganjurkan shalat di masjid sudah tepat, namun bukan berarti tidak memakmurkan masjid. Justru dengan mencegah penyebaran inilah masjid menjadi makmur karena orang tidak akan khawatir pergi ke masjid.

3. Tulisan ini lagi-lagi tidak mengkampanyekan untuk tidak pergi ke masjid. Tulisan ini mengkampanyekan untuk mencegah penyebaran yang makin meluas karena penularannya yang cukup cepat karena tidak ada gejala yang muncul pada beberapa hari sebelumnya.

4. Munculnya hal-hal semacam itu disebabkan karena kurangnya informasi yang diterima oleh orang-orang tertentu. Bisa jadi mereka hanya datang ke kajian dan mendengarkan ganjaran apa saja yang diterima. Ilmu harus dibarengi dengan adab dan etika, namun hal ini jarang muncul di kajian-kajian yang ada. Bahkan ada beberapa penceramah yang hanya menekankan ganjaran apa saja yang diterima. Ironinya, hal tersebut justru mudah ditemukan di internet dan kesimpulannya pun dapat diambil dan disebarkan dengan mudah.

5. Harapan penulis adalah mengembalikan fungsi dakwah sebagai ajakan dan himbauan, bukan sebagai pencetak penegak hukum, pemarah, mengucilkan suatu golongan, atau mengancam orang. Anda pendakwah atau peneror?

6. Jangan sampai kita sebagai seorang hamba Allah hanya ingin mencari ganjaran saja, sampai-sampai mengedepankan ego untuk menjatuhkan orang, mencemooh orang, atau menyombongkan diri. Memperbaiki diri sendiri adalah langkah awal sebelum mencari atau menggapai hal-hal lainnya.

7. Jika ada salah kata, memang datangnya dari saya sendiri. Jika ada benar kata, itu datangnya dari Allah SWT. Semoga dengan keputusan MUI, Kementrian Agama, dan organisasi Muslim yang ada dapat menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi saat ini.

Link: https://www.wattpad.com/863143733-aku-bukan-pemimpin-surgamu-nggak-nyamperin-masjid

Bingung?